Home Nasional Belajar dari Pengalaman sebagai Gubernur, Ganjar Siap Bangun Kawasan Industri Kesehatan

Belajar dari Pengalaman sebagai Gubernur, Ganjar Siap Bangun Kawasan Industri Kesehatan

40
0

Ketergantungan Indonesia pada alat kesehatan dan farmasi produk impor membuat harga produk tersebut cukup mahal bagi kebanyakan orang yang membutuhkannya.

Oleh karena itu upaya untuk membangun industri kesehatan dalam negeri yang kuat sangat dibutuhkan agar Indonesia menjadi negara yang mampu memenuhi kebutuhan alat kesehatan dan farmasi secara mandiri.

Calon presiden (capres) nomor urut 3, Ganjar Pranowo mengaku sudah memiliki cara mengatasi minimnya bahan baku industri farmasi dan alat kesehatan dalam negeri.

Ganjar mengungkapkan, pengembangan industri kimia dasar harus segera dimulai. Karena itu, program nyata yang harus diwujudkan adalah membangun kawasan industri kesehatan untuk menjadi penopang kemandirian Indonesia terhadap industri alkes dan farmasi.

Baca juga: Ganjar Sambangi Rumah Bersejarah Rengasdengklok, Warga Teriakan “Ganjar Presiden”

Sayangnya, kawasan industri kesehatan tersebut belum dilirik. Padahal, Indonesia memiliki sejumlah potensi. Kebijakan bahan baku farmasi dan alat kesehatan saat ini masih harus dikalahkan dengan kemudahan melalui impor.

“Plasma nutfahnya sudah oke luar biasa, perisetnya sudah ada, siapa yang memungut itu dalam meja pengambilan keputusan. Tidak ada?” kata Ganjar dalam dialog dengan Kamar Dagang Indonesia (Kadin) di Jakarta, (11/1/2024).

Mantan Gubernur Jawa Tengah dua periode itu menegaskan, jawaban dari segala polemik di industri farmasi dan alat kesehatan adalah pengembangan research and development (R&D).

Ganjar menegaskan dirinya bakal mengalokasikan 1% untuk R&D Indonesia dari Produk Domestik Bruto (PDB) untuk mendorong pengembangan bahan baku industri dan alat kesehatan dari dalam negeri.

Baca juga: Peduli Kesehatan Jiwa, Ini Langkah Konkret Ganjar-Mahfud

“Sekarang kita mulai dengan alokasi 1% saja untuk riset dan development Indonesia dari PDB (produk domestik bruto), kita dorong kemudian agar biaya risetnya itu mencukupi. Risetnya sudah, Pak di BRIN,” katanya.

Ganjar mengatakan, polemik kebutuhan alkes yang tidak diimbangi dengan alokasi anggaran sudah dialaminya saat menjabat sebagai gubernur selama 10 tahun. Dalam menyusun anggaran, permintaan tertinggi datang dari kebutuhan alkes. Namun, justru banyak masalah juga datang dari industri tersebut.

Dengan pengalaman itulah Ganjar berkomitmen menghentikan dan segera mengatasi situasi minimnya alkes dan bahan baku farmasi di Indonesia. “Suka tidak suka kita harus memulai kimia dasar, petrokimia,” katanya.

Baca juga: Industri Sepeda Motor Indonesia Harus Beradaptasi agar Bisa Bersaing di Pasar Global

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here