Home Feature Sosok Doni Monardo di Mata Dahlan Iskan

Sosok Doni Monardo di Mata Dahlan Iskan

47
0

Nama Doni Monardo rupanya memiliki arti tersendiri bagi seorang Dahlan Iskan. Mantan Menteri BUMN ini menuliskan sedikit kenangan berkesannya dengan pria berpangkat Letnan Jenderal TNI.

Dalam tulisannya di Catatan Harian Dahlan yang dipublikasi Disway.id, (5/12/2023), Dahlan sempat mengisahkan kepanglingannya saat bertemu Doni Mornardo kira-kira setahun silam di pabrik plastik di Tangerang. Dahlan pun mengamatinya dengan seksama.

Rupanya yang diamati merasakannya. Doni melihat Dahlan sedang heran mengamati wajah dan tubuhnya. “Rambut saya yang berubah, Pak,” kata Doni menjawab keheranan Dahlan.

Benar. Itulah yang membuat Doni tampak lebih muda dan segar. Rambutnya lebat. Tidak lagi botak. Warnanya hitam. Tidak ada putihnya. Sisirannnya rapi, dengan ukuran rambut yang tidak terlalu pendek.

“Kalau Pak Dahlan mau, nanti saya kirimi obatnya,” katanya. Rupanya Pak Doni melihat rambut saya mulai menipis. Juga mulai terlihat botak di bagian dekat ubun-ubun. Sudah pula lebih banyak ubannya.

Seminggu kemudian saya menerima kiriman paket. Isinya obat penumbuh rambut. Banyak sekali. Di botol-botol kecil ukuran sekitar 100 cc.

Saya pun memotret kiriman itu. Fotonya saya kirim ke beliau, dengan ucapan terima kasih. Saya berjanji untuk memakainya tanpa menyebut mulai kapan.

Janji itu belum saya penuhi. Sampai beliau meninggal dunia hari Minggu sore (3/12/2023) dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata kemarin siang, (4/12/2023).

Komandan upacara pemakaman itu adalah Kepala Staf TNI-AD yang baru: Jenderal Maruli Simanjuntak. Maruli adalah junior Doni di Kopassus. Waktu Doni menjabat Danjen Kopassus, Jenderal Maruli masih letnan.

Dahlan menuliskan, saat menjabat Danjen Kopassus Doni punya program unggulan: anggota Kopassus-muda harus jadi juara di bidang masing-masing. Ada judo. Karate. Mendaki gunung. Dan banyak lagi.

Maruli adalah juara judo. Lalu Pangdam Tanjungpura sekarang Mayjen TNI Iwan Setiawan juara mendaki gunung.

Tim Mayjen Iwan membuat sejarah bagi Indonesia: berhasil mencapai puncak Everest. Bendera merah putih berkibar di sana. Kopassuslah pengibarnya.

Dahlan mengenang Doni sebagai sosok tangguh yang menjadi panglima tertinggi pengendalian Covid-19. Saat badai Covid-19 merajalela, Doni adalah Kepala BNPB yang ditunjuk sebagai Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Dahlan sempat bertemu dengan Doni di pusat pengendalian Covid-19. “Setelah menjalani berbagai tes saya diizinkan masuk ke ruang kerjanya. Itu adalah juga tempat tinggal beliau,” tulis Dahlan.

“Selama menjadi komandan pengendalian Covid-19 beliau tidak pernah pulang. Tidur di sebelah ruang kerja itu: tempat tidur lipat yang biasa dipakai di barak tentara. Waktu beliau habis untuk urusan Covid-19. Siang-malam,” tambahnya.

Itulah Doni Monardo. Anak Minang yang lahir di Cimahi, dekat Bandung. Ayahnya tentara. Pindah-pindah. Pun Doni. Ia menyelesaikan SMA-nya di Padang. Lalu masuk akademi militer di Magelang. Angkatan 1985.

Di semua jabatannya itu Doni seperti habis-habisan. Waktu jadi Pangdam Siliwangi, Doni menjalankan proyek besar sekali di bidang lingkungan hidup: membersihkan alur sungai Citarum. Menyeluruh. Di sepanjang wilayah Jawa Barat.

Tidak hanya sungainya yang dibersihkan. Pinggirnya juga dihijaukan. Agar erosi yang masuk Citarum terkendali.

Dalam tulisannya, Dahlan menyebut Doni sebagai pecinta pohon. Doni-lah yang menanam begitu banyak trembesi di lingkungan bandara Lombok.

“Setiap ke bandara Lombok saya seperti bertemu Pak Doni. Pun di bandara Hasanuddin Makassar. Penuh pohon trembesi. Doni-lah yang menanamnya,” ungkap Dahlan.

Dahlan juga mengisahkan momen ketika helikopter yang ditumpangi Doni terombang-ambing angin ribut di Pulau Miangas. Beruntung, Doni selamat dari kecelakaan heli yang akan bisa menewaskannya. “Pak Doni selamat,” tulis Dahlan.

Pun dalam badai Covid-19, Pak Doni juga selamat. Tapi Pak Doni sebenarnya kurang sehat. Sejak lama. Sejak hampir 10 tahun lalu. Kalau saja beliau sehat rasanya akan bisa jadi KSAD. Atau panglima TNI.

“Pak Doni punya masalah kesehatan yang umum dialami banyak laki-laki berumur: prostat,” ungkap Dahlan.

Dahlan termasuk yang menyarankan agar beliau dioperasi di Singapura tanpa takut dinilai kurang nasionalis. “Itu karena teman saya, orang Singapura, baru saja berhasil mengatasi kanker prostat dengan cara operasi,” jelas Dahlan.

Selanjutnya, kondisi Doni pun kian kurang baik. Pembuluh darah di otaknya pecah. Tidak sadarkan diri. Setelah 2,5 bulan di rumah sakit beliau meninggalkan kita selamanya.

Jasanya begitu besar bagi bangsa. Penduduk Indonesia hampir sama dengan Amerika. Ekonomi Indonesia jauh sekali di bawah Amerika. Tapi korban Covid-19 Indonesia begitu sedikit dibanding Amerika.

“Pak Doni termasuk yang mendukung pemerintah untuk tidak melakukan lockdown secara nasional di saat Covid-19. Kebijakan itu akhirnya terbukti berhasil,” kata Dahlan.

“Doni Monardo ikut menyelamatkan kita semua. Pun di saat beliau sendiri sebenarnya sudah tahu: kanker sedang mengancam keselamatannya,” ungkap Dahlan diakhir tulisannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here