Home Daerah ASPAI Jakarta: Giatkan Budidaya untuk Turunkan Nilai Import Anggur

ASPAI Jakarta: Giatkan Budidaya untuk Turunkan Nilai Import Anggur

72
0

Asosiasi Penggiat Anggur Indonesia (ASPAI) DPD Jakarta menggelar pertemuan perdananya, bertempat di Sekretariat ASPAI DPD Jakarta, Rawabunga, Jatinegara, Jakarta Timur, Sabtu (13/01/2024). Puluhan orang terdiri dari pengurus dan anggota penggiat anggur di Jakarta berkumpul di tempat itu.

Dalam penjelasannya, Ketua ASPAI DPD Jakarta, Muhammad Yusuf mengatakan bahwa terbentuknya DPD Jakarta ini tidak luput dari instruksi yang diberikan oleh Kementrian Pertanian melalui Departemen Hortikultura.

“Jadi ini, agar ASPAI ini, terbentuk DPD Se-Indonesia,” jelasnya.

Menurutnya, hal ini tidaklah mudah, mengingat asosiasi ini tidak hanya mengumpulkan orang yang ahli di bidang budi daya tanaman anggur.

“Jadi bukan hanya mereka yang ahli di bidang budidaya anggur, tapi juga soal organisasi. Perlu kelihaian tersendiri, menggabungkan orang yang biasa di lapangan dengan orang yang biasa dalam organisasi,” katanya.

Tujuan dari terbentuknya ASPAI sendiri adalah untuk mengurangi import anggur dari luar negeri.

“Tahun 2030, Kementerian Pertanian mempunyai program untuk menurunkan nilai import anggur sebesar 20 persen,” imbuhnya.

Menurut Yusuf, data BPS tahun 2020 menunjukkan bahwa import buah mencapai 118,19 trilyun, terdiri dari buah anggur, jeruk, pir dan apel.

“Dari empat jenis buah tersebut, anggur menyumbang 40 persen,” ungkap Yusuf.

Dengan kenyataan yang sedemikian itu, Kementerian Pertanian mendorong pegiat anggur supaya tidak hanya berhenti sampai pada budi daya, tapi bisa memenuhi kebutuhan konsumsi buah anggur.

Ke depan, ASPAI DPD Jakarta akan menggandeng pihak-pihak terkait yang memiliki perhatian yang sama soal budi daya dan pengembangan tanaman anggur ini. Yusuf mencontohkan bahwa ada universitas dari Jakarta Timur yang menawarkan kerjasama itu, salah satunya rencana untuk membuat kurikulum tentang budi daya anggur.

“Pada saatnya nanti terjadi kerjasama, kita akan lebih naik level, karena apa yang sudah dibudidayakan akan didukung dengan data-data dari kampus.” terangnya.

Dengan demikian, akan lebih scientific dan mengarah pada sistem pertanian presisi.

“Jadi apa yang kita tanam, mulai dari benih, sudah kualitas unggul. Media dan pupuk sudah ada hitung-hitungannya, penanggulangan hama juga ada risetnya,” jelasnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here