Home Mancanegara Nasywa Adivia, Remaja Jambi di Podium PBB

Nasywa Adivia, Remaja Jambi di Podium PBB

41
0

Hari Selasa, 5 Desember 2023 adalah hari bersejarah untuk Nasywa Adivia Wardana (16 tahun). Nasywa berdiri di podium pada pertemuan PBB di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).

Gadis remaja asal Tebo, Jambi itu berbicara mewakili Indonesia dalam ajang internasional tersebut, Pertemuan Tingkat Tnggi Tahunan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Perubahan Iklim atau Conference of Parties – United Nation Framework Convention on Climate Change (COP-UNFCCC) ke 28.

Ia berbicara dalam sesi COP28 Women and Gender Pavilion Session, bertajuk ‘Young and Fearless: The Powerful Voices of Young Women Environmental Right Defenders’.

Dalam pertemuan itu, para pemimpin dunia berkumpul membahas penanganan perubahan iklim, di tengah keadaan iklim dunia semakin sulit untuk dikendalikan.

Nasywa hadir atas sponsor dari GAGGA (Global Alliance for Green and Gender Action) yang berkantor di Belanda. Gadis SMA kelas XI SMAN Tebo ini dinilai mampu melakukan aktivitas berharga dalam rangka penanganan perubahan iklim bersama organisasi yang membinanya, Serikat Perumpuan Indonesia (SERUNI).

“Sejak kecil saya sudah menjadi korban bencana kabut asap dari di Pulau Sumatra, khususnya di Provinsi Riau. Tinggal di rumah berbulan-bulan ditemani masker dan tabung oksigen. Serta tidak bisa ke sekolah dan bermain dengan kawan sebaya,” kisah Nasywa dalam pidatonya.

“Setiap hari saya mendengar pembicaraan tentang kabut asap akibat kebakaran lahan gambut dan hutan untuk perkebunan besar kelapa sawit secara berulang-ulang,” lanjutnya.

“Saya dan anak-anak yang lain juga sering terlibat aksi-aksi menuntut penanganan kabut asap, melakukan pelayanan terhadap korban asap, menulis puisi dan tampil menyanyikan lagu-lagu tentang alam,” papar Nasywa.

Di usia remaja, Nasywa mulai terlibat dalam perjuangan dan kegiatan pemulihan lingkungan hidup secara langsung.

Hingga akhirnya memutuskan tinggal dan melanjutkan sekolah di pedesaan: terlibat serta membangun taman ekologis Rivera Park di Kabupten Tebo, mengubah tanah dan sungai yang rusak akibat pertambangan emas tradisional menjadi salah satu destinasi wisata andalan di Propinsi Jambi.

Nasywa juga aktif mempromosikan penanaman tanaman pangan organik yang ramah lingkungan. Ia merasakan langsung bahwa perjuangan pemulihan lingkungan hidup itu tidak mudah.

Dukungan pemerintah yang terbatas terhadap Pembangunan ekowisata, terbatasnya penghidupan ekonomi dan pengetahuan masyarakat sehingga masih bergantung hidup, mau tidak mau, dari produksi yang merusak lingkungan adalah tantangan tersendiri.

Kehadirannya di COP28 Dubai adalah suatu kebanggaan luar biasa. Semakin mengukuhkan perhatiannya pada dunia aktivis, terutama dalam isu lingkungan hidup dan keadilan gender.

Dia mengaku, matanya semakin terbuka melihat dunia: penderitaan yang dia alami juga dirasakan oleh jutaan remaja dan perempuan di seluruh dunia.

Ada banyak pulau di belahan dunia lain yang terancam tenggelam, krisis pangan dan bencana kelaparan semakin tidak terhindar. Kerusakan iklim akibat eksploitasi segelintir penguasa ekonomi politik dunia semakin nyata.

“Dari COP28 ini, saya belajar tentang isu lingkungan hidup dan perubahan iklim yang sangat komplek serta tidak mudah dipahami. Tidak banyak anak muda yang bisa terlibat dalam momentum berharga ini. Padahal mereka adalah masa depan bumi,” ungkapnya.

“Saya berharap anak-anak muda mendapat dukungan penuh menjalankan aktivitasnya yang bersentuhan dengan lingkungan hidup dan masa depan bumi yang lebih baik dan adil,” ujar Nasywa.

Melalui kesempatan yang diberikan kepadanya sebagai salah-satu pembicara itu, ia ingin menggugah kesadaran teman segenerasinya dan masyarakat luas bahwa pemanasan global dan krisis iklim adalah ancaman yang nyata. Perempuan muda seperti dirinya harus berbuat sesuatu dalam penanganan krisis iklim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here