Home Politik TKN Tanggapi Soal Kubu AMIN Ungkit Paslon Khianat di Ijtima 2019

TKN Tanggapi Soal Kubu AMIN Ungkit Paslon Khianat di Ijtima 2019

17
0

Suasana menghangat dengan situasi politik terkini, adanya saling mengungkit tak lepas dari kisah masa lalu dukungan dari kandidat Capres-cawapres yang akan berlaga pada pilpres 2024 mendatang.

Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka memberikan tanggapan terkait yang menyinggung terindikasi mengkhianati Ijtima Ulama tahun 2019 dari pernyataan Co-Kapten Tim Pemenangan Nasional Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (Timnas AMIN), Yusuf Martak.

“Kami sebetulnya di TKN Prabowo-Gibran ini berharap semua pihak menjaga keteduhan dalam proses pelaksanaan pemilu yang akan datang, karena itu semua pihak diharapkan dapat mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang membuat orang merasa tenang, kemudian dengan begitu ya semua pihak bisa menjaga suasana kebatinan tetap baik,” kata Wakil Sekretaris TKN, Saleh Daulay, kepada pers.

Ia juga kemudian meminta penjelasan khianat yang dimaksud Yusuf Martak. Sebab, Saleh tidak ingin ada pergunjingan yang tidak baik.

“Perlu juga kita mendapatkan penjelasan seperti apa yang dimaksud dengan penghianat itu, karena siapa yang dimaksud pengkhianat itu, karena jangan sampai menjadi pergunjingan yang tidak baik. Para ulama itu harus menghindari unsur-unsur yang mengarah pada hal yang bersifat pergunjingan. Itu ada dalam Al-Qur’an pernyataan itu bahwa tidak boleh saling bergunjing, saling melempar isu yang tidak baik,” tutur dia.

Kalau yang dimaksud pihak yang khianat adalah Prabowo, Saleh pun memberikan penegasan. Menurutnya, Prabowo bergabung dengan pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menyatukan umat.

“Kalau misalnya yang dimaksud itu adalah Prabowo, maka perlu ditegaskan bahwa justru Prabowo itu dianggap sebagai orang yang sangat santun dan mengerti suasana kebatinan Indonesia. Ya terbukti dengan beliau mau mengalah untuk menjadi salah seorang pembantu Presiden Jokowi. Tujuannya adalah untuk menyatukan umat ini malah justru, supaya tidak ada keterbelahan,” sebut dia.

Kemudian, Ketua DPP PAN itu lebih jauh menyinggung istilah cebong dan kampret yang muncul pada Pemilu 2019. Saleh tak bisa membayangkan potensi terjadinya keterbelahan jika Prabowo tidak bergabung dengan Jokowi.

“Itu kalau kemarin Pak Prabowo tidak gabung dengan Presiden Jokowi kita tidak bisa membayangkan keterbelahan umat itu seperti apa sampai sekarang. Justu dengan masuknya Pak Prabowo ke tempatnya Pak Jokowi sebagai anggota kabinet, maka isu-isu yang selama ini membuat keterpecahan itu alhamdulillah bisa kita kikis,” jelasnya.

Dia juga mengaku sudah bisa membaca maksud tersebut dan Saleh mengutarakan pernyataan Yusuf Martak itu untuk mendegradasi pasangan lain.

“Ustaz Yusuf Martak itu adalah Co-Kapten timnya AMIN kalau beliau tercatat sebagai timnya AMIN ya kita memahami saja arah pikirannya ke mana, jadi bisa saja justru yang disampaikan itu adalah untuk mendegradasi salah satu pasangan calon dan menaikkan posisi pasangan lainnya,” tegasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here