Home Politik Ketum Muhammadiyah: Ganjar-Mahfud Tak Akan Khianati Konstitusi

Ketum Muhammadiyah: Ganjar-Mahfud Tak Akan Khianati Konstitusi

29
0

Muhammadiyah menaruh harapan besar pada pasangan calon Ganjar Pranowo dan Mahfud MD. Keduanya diharapkan mampu mengembalikan demokrasi sesuai fondasinya dan melawan praktik-praktik politisasi hukum di negeri ini.

Hal itu disampaikan Ketua Umum (Ketum) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir dalam dialog publik Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah, Kamis (23/11/2023). Ganjar dan Mahfud hadir secara langsung dalam acara tersebut untuk menyampaikan ide dan gagasannya dalam membangun Indonesia.

“Kami percaya, dua tokoh yang hadir ini (Ganjar-Mahfud) ketika rakyat memberi amanat dan mandat, tentu akan berdiri dekat dengan konstitusi dan tidak menyalahgunakannya,” kata Haedar dalam acara dialog publik Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (23/11/2023).

Dalam sambutannya, Haedar menyinggung persoalan hukum di Indonesia. Dia menilai, banyak masalah yang terjadi di negara ini, salah satunya adalah terjadinya politisasi hukum yang mencederai demokrasi.

“Praktik kehidupan kebangsaan akhir ini sangat meresahkan. Di mana hukum mengalami proses politik bahkan dalam konteks demokrasi orang tidak berani berkata dan berbuat yang berbeda karena ada politisasi hukum,” tegasnya dalam acara yang dihadiri Ganjar dan Mahfud secara langsung untuk menyampaikan ide dan gagasannya dalam membangun Indonesia itu.

Haedar mengatakan, hukum dan demokrasi harus berlaku secara fundamental dalam kehidupan berbangsa. Indonesia sudah berjuang dengan darah untuk menjadi negara merdeka dan mewujudkan cita-cita kesejahteraan bersama.

“Maka kira perlu merekonstruksi itu. Kita ingin para pemimpin bangsa ke depan membawa kembali hukum dan demokrasi kita sesuai fondasinya,” tegasnya.

Lebih lanjut Haedar menyampaikan, banyak undang-undang atau produk hukum lainnya di Indonesia yang tarik ulur. Sejumlah produk hukum yang dihasilkan adalah hasil dari koalisi oligarki.

“Kami harap ke depan, jangan ada lagi undang-undang yang diputuskan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Bahasa arabnya itu min haisu la yahtasib (kemunculan dari yang tidak disangka-sangka)” ucap Haedar di hadapan Ganjar Mahfud.

Bagi Muhammadiyah, lanjut Haedar, Ganjar dan Mahfud bukanlah orang baru. Keduanya adalah tokoh yang paling sering berinteraksi dengan Muhammadiyah.

“Bagi kami Muhammadiyah, Pak Ganjar ini bukan orang baru. Kami sudah sangat dekat karena sering bersilaturahmi dan berinteraksi dengan beliau sejak lama. Pak Ganjar selalu bersama kami untuk kesuksesan Muhammadiyah. Pak Mahfud juga sama, kami selalu berinteraksi sejak zaman di Jogja bahkan saat sekarang menjadi menteri,” pungkas Haedar.

Ganjar dan Mahfud sepakat dengan pernyataan Haedar Nashir. Hukum dan demokrasi adalah cita-cita bangsa yang diperjuangkan sejak lama. Ganjar mengajak semua elemen masyarakat untuk berjuang mengamankan hukum dan demokrasi agar berjalan sesuai konstitusi.

“Maka kita semua harus menjadi agen. Ayo semua kelompok speak up, berani bicara. Dan Muhammadiyah harus mengambil peran itu, karena apa keluar dari Muhammadiyah pasti layak dan wajib didengarkan,” ucap Ganjar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here