Home Mancanegara Saat Pekerja Migran Indonesia Bikin Bangga Negaranya. Kepala BP2MI: Menteri Pariwisata Harus...

Saat Pekerja Migran Indonesia Bikin Bangga Negaranya. Kepala BP2MI: Menteri Pariwisata Harus Datang Kesini!

22
0

Saat melakukan kunjungan kerja ke Ansan, Korea Selatan untuk bertemu dengan para Pekerja Migran Indonesia (PMI), Kepala BP2MI Benny Rhamdani berkesempatan bersilaturahmi dengan Paguyuban Bumi Reyog Ponorogo.

Benny mengaku cukup terkejut dan merasa bangga dengan keberadaan Paguyuban Bumi Reyog Ponorogo di Ansan, Korea Selatan yang sudak hadir cukup lama sekitar tahun 2012.

Benny mengatakan kunjungannya ke Paguyuban Bumi Reyog Ponorogo sebenarnya tidak masuk dalam agenda kunjungan selama di Korea Selatan.

“Kalau tidak sedikit dipaksa kesini, mana saya tahu bahwa teman-teman Ponorogo begitu partisipatif dalam rangka misi budaya, selain bekerja, dengan peralatan yang dibiayai sendiri. Dan saya yakin ini sudah sering kali tampil di Korea ya, ini luar biasa menurut saya,” ujar Benny di Ansan, Minggu (8/10/2023).

Benny mengapresiasi keberadaan organisasi paguyuban ini, di mana seharusnya pemerintah patut bersyukur karena para pekerja migran ini sudah menyebarkan budaya Indonesia.

“Menteri Pariwisata harusnya datang kesini, bahwa ada paguyuban yang tanpa inisiatif pemerintah dan tanpa dimodali negara, mereka mengambil inisiatif sendiri untuk menyebarkan budaya Indonesia,” ungkap Benny.

Sesepuh di Paguyuban Bumi Reyog Ponorogo, Purwanto, berterima kasih karena rombongan BP2MI menyempatkan untuk bersilaturahmi dengan paguyubannya.

“Inilah markas Bumi Reyog Ponorogo, yang biasanya menjadi tempat ngumpul teman-teman pekerja migran Indonesia di hari libur, yang menjadi tempat kangen-kangenan dan tempat menyalurkan hobi,” ujar Purwanto.

“Paguyuban ini ada sejak dilakukannya pengiriman pekerja migran Indonesia ke Korea Selatan melalui PJTKI (sekarang P3MI). Karena bertemu dengan teman sekampung yaitu Ponorogo, maka dibentuklah paguyuban ini,” jelas Purwanto.

Purwanto bercerita, mereka telah memiliki Reog Ponorogo yang didatangkan pertama kali pada tahun 2012 sebanyak 1 unit, dan bertambah lagi 1 unit pada tahun 2014.

“Pada acara penutupan Asean Games di Incheon tahun 2014, tim dari Indonesia meninggalkan 1 unit Reog-nya untuk dibeli oleh kami, sehingga kami memiliki 2 unit Reog,” jelasnya.

“Dan terakhir kami mengirimkan unit Reog dibantu oleh tim KBRI dengan biaya dari kami. Jadi seluruhnya unit reog itu mandiri biaya dari kami,” ungkap Purwanto.

Dengan reog tersebut, lanjut Purwanto, mereka mengikuti berbagai festival di Korea Selatan, untuk memeriahkan dan memperkenalkan budaya Reog di Korea Selatan.

“Tetapi kendalanya adalah kami sering mengalami benturan dengan waktu kerja personil, karena mereka adalah pekerja migran. Sehingga seringkali tampil dengan seadanya,” ucapnya.

Purwanto juga menjelaskan, permasalahan pekerja migran Indonesia di Korea Selatan adalah mereka sudah terlalu nyaman hidup dan bekerja di Korea Selatan.

“Jadi mereka takut pulang karena tidak tahu akan bekerja apa di tanah air. Makanya ada yang bahkan sudah 27 tahun di Korea Selatan dan belum kembali ke tanah air,” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Benny mengatakan kepada para pekerja migran Indonesia untuk tidak takut kembali ke tanah air, selama mereka disiplin dalam menabung selama bekerja di Korea Selatan untuk menjadi modal di masa depan.

“Gaji di Korea kan tinggi ya. Seandainya bisa disiplin dalam hal menyisihkan hasil kerja di Korea untuk dijadikan modal usaha apabila suatu saat kembali ke tanah air, dan selama di Korea membawa pengetahuannya untuk dibawa ke negara kita, saya yakin akan banyak yang sukses,” ujar Benny.

“Kalau dari catatan kami, yang menjadi tokoh-tokoh inspiratif dari Korea Selatan itu tidak sedikit,” tambahnya.

Benny mengungkapkan, saat mengunjungi Ansan Migrant’s Counseling Support Center, ia mendapat informasi lagi tentang pekerja migran Indonesia Waryono asal Kendal, yang sukses berusaha di kampung halamannya.

“Waryono memiliki usaha Ansan Mart, Bengkel Ansan, Restoran Ansan, dan bahkan anaknya diberi nama Ansan. Ini sangat inspiring,” ujarnya

“Sebenarnya orang seperti Waryono itu tidak sedikit, sepanjang teman-teman datang ke Korea tentu bekerja secara resmi, dan bagaimana disiplin menabung dan menyisihkan dari pendapatannya per bulan. Kemudian kita bermimpi kita akan menggunakan uang yang kita tabung itu untuk masa depan,” papar Benny.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here