Home Politik Kekhawatiran Jokowi Kini Terbukti, Polarisasi Politik Nyata di Masyarakat

Kekhawatiran Jokowi Kini Terbukti, Polarisasi Politik Nyata di Masyarakat

50
0

Presiden Jokowi sebelumnya beberapa kali menyampaikan terkait kekhawatirannya mengenai polarisasi pada pemilu 2024 mendatang.

Kekhawatiran Kepala Negara soal polarisasi politik di masyarakat, kini terbukti. Hal itu tercermin dari hasil survei nasional, yang dilakukan oleh Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI).

“Dengan fakta yang tercermin dari hasil survei, saya berharap kenyataan itu harus menjadi kesadaran bersama,” kata Peneliti Senior di Surabaya Survey Center (SSC) Surokim Abdussalam, Senin (20/3/2023).

Dalam survei diketahui bahwa polarisasi politik di Indonesia terjadi baik di dimensi dalam jaringan (daring) atau dunia maya maupun dunia nyata.

Jokowi sebelumnya beberapa kali menyampaikan terkait kekhawatirannya mengenai polarisasi pada Pemilu 2024 mendatang.

“Dengan kesadaran bersama, dapat dilakukan langkah antisipatif. Hal itu agar tidak memberikan dampak negatif yang lebih luas,” ujarnya.

Menurutnya, kekhawatiran Jokowi wajar dan hal itu merupakan residu dari pilpres dan beberapa pilkada sebelumnya. Karena merupakan residu, maka memang harus diantisipasi.

Hal itu tercermin dari hasil Survei Nasional yang dilakukan oleh Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI) bahwa polarisasi politik di Indonesia fakta terjadi baik di dimensi dalam jaringan (daring) atau dunia maya maupun dunia nyata.

Dikatakan Surokim, tujuan dari pemilu dilaksanakan bukan untuk memecah belah, melainkan memperkuat kesatuan dan persatuan masyarakat sebagai bangsa.

Dengan biaya politik yang mahal, seharusnya mampu memberikan harmonisasi bukan malah mempertajam polarisasi.

“Untuk apa kita menyelenggarakan pemilu mahal-mahal kalau kemudian hasilnya justru memicu konflik dan polarisasi yang kemudian bisa membahayakan keutuhan negara,” paparnya.

Surokim menambahkan, untuk meminimalisir terjadinya polarisasi para kandidat harus lebih banyak berbicara program apa yang akan ditawarkan kepada masyarakat.

“Jadi pesan ini mestinya harus disuarakan oleh semua pihak makanya kita berkepentingan untuk terus mendorong pemilu programatik itu tujuannya itu supaya kemudian tidak bicara kandidat melulu“,ujar Surokim

“Tetapi lebih pada program-program karena kalau kita bicara pada pemilu programatik otomatis bisa mereduksi itu polarisasi polarisasi itu,” ucapnya.

Lanjut Surokim, kekhawatiran Presiden Jokowi soal ancaman polarisasi memang nyata dan terjadi di masyarakat.

Meskipun tingkat elit sudah rekonsiliasi namun ditingkat bawah masih ada yang belum selesai.

“Saya kira bukan hanya peringatan Presiden tetapi itu sudah nyata di masyarakat dan residu itu bisa dirasakan sampai saat ini kalau kemarin sudah rekonsiliasi di tingkat pusat Pak Jokowi mengakomodasi kepentingan Pak Prabowo,“ ujarnya.

“Tetapi di level bawah kan belum sepenuhnya itu bisa terkonsiliasi. Itu bisa mudah selesai,” jelas Surokim.

Oleh sebab itu, hasil penelitian dari Laboratorium Psikologi Politik UI tersebut harus menjadi peringatan bagi semua kalangan untuk tidak menggunakan cara-cara kampanye yang dapat memperuncing polarisasi yang lebih ekstrem kedepan.

“Lampu kuning sudah dan kalau nanti itu terjadi di 2024 itu berbahaya, saya berharap kita sudah lebih siap untuk menuju pemilu programatik dan kita lawan saja pemilu-pemilu yang punya potensi untuk membuat polarisasi,“ terangnya.

“Sosialisasi politik yang seperti itu sudah tidak laku lagi bagi masyarakat kita, saya kira tidak ada gunanya dan tidak ada maknanya bagi masyarakat kita,” urai Surokim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here