Home Nasional Gagasan Fikih Peradaban Ketum PBNU Dinilai Bisa Jadi Kunci Reformasi Agama di...

Gagasan Fikih Peradaban Ketum PBNU Dinilai Bisa Jadi Kunci Reformasi Agama di Indonesia

30
0

Tiga guru besar lintas kampus dan lembaga memberikan pendapat mengenai gagasan fikih peradaban yang digelontorkan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atau PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.

Para peneliti itu mempunya pendapat berbeda, namun sama-sama mendukung gagasan Fikih Peradaban tersebut. Gagasan fikih peradaban tersebut dipandang sebagai sesuatu yang brilian dan sejalan dengan amanat konstitusi.

Dekan Fakultas Studi Islam Universitas Islam Internasional Indonesia Noorhaidi Hasan menilai gagasan tersebut perlu didukung. Dia berpendapat gagasan itu dapat menjadi kunci dari reformasi agama di Indonesia maupun global.

“Indonesia bisa menjadi kiblat dunia pengkajian Islam dengan menawarkan pemikiran segar yang kontributif bagi dunia,” kata dia.

Dalam Seminar Nasional bertema ‘Prospek dan Tantangan Fiqih Peradaban sebagai Solusi Krisis Tata Dunia Global’, di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Senin, 27 Maret 2023.

Peran PBNU juga sangat signifikan dalam membangun fikih peradaban, sehingga Indonesia pada saatnya akan menjadi kiblat dunia pengkajian Islam dengan menawarkan pemikiran segar yang kontributif.

Dia menilai gagasan itu sudah kuat secara epistemologi. Meski demikian, kata dia, gagasan itu perlu diperkuat dari sisi metodologi.

Pemantapan pada sisi metodologi itu, kata dia, perlu agar gagasan ini bisa diterapkan secara internasional.

“Kalau bisa penekanan lebih jauh secara metodologis menjadi satu model yang akan diperhitungkan di seluruh dunia internasional,” katanya.

Fikih peradaban adalah gagasan yang berisi tentang rumusan pemikiran mengenai sah tidaknya Piagam PBB menurut syariat Islam, baik di negara yang dipimpin oleh presiden muslim maupun non-muslim.

Berdasarkan kajian Gus Yahya di Fikih Peradaban, piagam itu dianggap sah sebab piagam tersebut punya tujuan untuk mewujudkan perdamaian.

Piagam tersebut tetap sah walaupun diteken oleh pimpinan negara yang tidak beragama Islam. Fikih Peradaban ini sempat menjadi agenda utama dalam perhelatan Satu Abad Nahdlatul Ulama dalam Muktamar Internasional Fikih Peradaban I.

Sementara itu, Guru Besar Universitas Pelita Harapan Aleksius Jemadu menilai Fikih Peradaban menjadi upaya NU sebagai organisasi untuk berperan dalam hubungan internasional.

Dia mendukung upaya NU untuk memperluas pengaruh pemahanan ini ke dunia internasional. “Kita perlu mendukung gagasan strategis ini,” kata dia.

Meskipun demikian ia menegaskan, gagasan Gus Yahya ini perlu didukung. “Bersama dengan NU dan ormas lainnya, kita perlu mendukung gagasan brilian dan strategis dari Gus Yahya untuk masa depan Indonesia dan kemanusiaan universal,” katanya.

Senada, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Siti Zuhro juga mengapresiasi gagasan Gus Yahya. Menurutnya, hal tersebut sangat brilian dan sejalan dengan amanat konstitusi.

Menurut Zuhro, peran PBNU sangat signifikan dalam membangun fiqih peradaban. Sebab, Indonesia membutuhkan pempimpin teladan yang transparan, tidak transaksional.

Dalam mewujudkan hal ini, Zuhro menegaskan perlu kesamaan langkah, semangat, soliditas dan sinergi yang kuat.

Berbeda dari ketiganya, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Ali Munhanif menegaskan perlunya NU menjadi organisasi transformatif yang harus berhasil memvisualisasi gagasan masa depan membangun tradisi sebagai modal penting yang bisa digerakkan dan ditularkan melalui madrasah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here