Home Nasional Islah Bahrawi: Cegah Penyebaran Radikalisme, Keluarga Jadi Benteng Pertama

Islah Bahrawi: Cegah Penyebaran Radikalisme, Keluarga Jadi Benteng Pertama

31
0

Keluarga menjadi cikal-bakal tempat mengedukasi hal dasar sebuah nilai-nilai yang ditanamkan untuk memahami dari sebuah sikap prilaku utamanya adab atau norma yang sejak dini dipelajari dalam menata keharmonisan ditubuh internalnya.

Sebelum terlalu jauh beranjak untuk memahami lingkungan dengan terjun bermasyarakat, maka pihak keluarga sudah membentengi dengan kaidah-kaidah yang diajarkan oleh kedua orang tuanya sebagai pemimpin dalam keluarga, untuk memilah mana yang terbaik untuk bisa diterima dimana tempat berada.

Hal yang mendasari sebagai tempat berpijak tentu pihak keluarga sudah memberikan sesuatu yang terbaik agar masyarakat atau minim terkecilnya tetangga yang menjadi tempat berinteraksi hubungan sosial bisa tertata dengan baik, saling memahami antara satu dengan yang lainnya.

Terlebih dalam lingkungan yang lebih luas, pemahaman berbagai macam sumber arus informasi baik dari lingkungan sekitar, bahkan diera digital seperti saat ini kecepatan arus informasi bisa didapatkan dari berbagai media sosial lainnya serta-merta sangat menentukan prilaku seseorang.

Faham berbagai macam informasi terkait radikalisme sangat mudah dipengaruhi oleh berbagai arus informasi seperti belakangan yang kita ketahui bersama, banyak yang terpapar faham tersebut bukan datang dari keluarga yang tidak atau kurang berpendidikan tetapi sudah menjamah dari keluarga yang secara berpendidikan lebih.

Bahkan menimpa keluarga dari aparatur negara yang sejak awal sudah dibekali dan ditanamkan wawasan kebangsaan dan nasionalisme sebagai pengabdian terhadap bangsa dan negara.

Peluang faham radikalisme menyasar dari berbagai lini berpotensi membuat terpapar semua golongan lapisan masyarakat.

Terkait hal itu, setiap potensi penyebaran ideologi radikalisme di Indonesia harus ditutup. Banyak konsep yang bisa digunakan untuk membendung penyebaran radikalisme.

Begitu dikatakan Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi.

“Selain pencegahan secara masif dan komprehensif oleh negara, pencegahan radikalisme dimulai dari keluarga,” jelas Islah.

Islah mengatakan, keluarga atau orang tua adalah sosok yang kemudian dicontoh anak-anaknya. Keluarga adalah hulu yang paling utama dalam membendung ideologi radikalisme. Peran keluarga amat penting, apalagi kalangan anak muda adalah usia rentan terpapar radikalisme.

“Keluarga menjadi kekuatan penting untuk berusaha melawan radikalisme. Kontra radikal bisa dilawan lewat keluarga, paling awal,” ujar Islah.

Walaupun, kata dia, ada beberapa kasus anak menemukan ideologi radikalisme sendiri atau disebut self radicalism. Tapi tetap sebenarnya peran orang tua dalam mengawasi anak-anaknya harus dominan.

Dia menilai masuknya ideologi radikalisme ke satu negara karena ada celah kosong.

“Negara tidak boleh diam. Negara harus menggunakan tangan besi. Kalau kita lemah mengatasi ini, semua akan terlambat,” imbuhnya.

Beberapa negara yang terlambat membendung ideologi radikalisme, seperti Filipina, Somalia, dan Sudan. Menurut Islah, negara-negara itu lemah mengantisipasi masuknya ideologi radikalisme.

“Banyak produk-produk mulai dari aturan sampai program yang seharusnya dilakukan. Kalau negara lemah, ideologi-ideologi radikal akan masuk secara leluasa,” katanya.

Di Indonesia, menurut Islah, leading sector dalam mengatasi masalah ideologi radikalisme adalah Polri untuk penindakan, dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk pencegahan.

“Tapi ada beberapa aturan yang memang mengikat perbantuan dari TNI untuk proses pencegahan dan penindakan. Seperti (operasi) Tinombala itu juga bagian dari sinergitas antara TNI-Polri dalam penindakan,” ujarnya.

Namun pada dasarnya, setiap pencegahan radikalisme yang paling berhasil di seluruh dunia adalah bagaimana bisa mencegahnya dari hulu membuat kultur-kultur di dalam masyarakat menolak radikalisme secara mandiri.

“Ketika paham radikalisme mulai masuk ke tengah masyarakat, masyarakat sendiri yang menolak, ini adalah konsep yang dilakukan oleh banyak akademisi di beberapa negara di dunia yang kemudian sangat efektif,” paparnya.

Islah menuturkan, pencegahan radikalisme oleh Polri sifatnya sangat normatif, terprogram, terstruktur. Kalau pencegahan dari masyarakat yang akhirnya membudaya, itu akan sangat berhasil.

“Ini banyak terjadi, terutama di Thailand Selatan sudah efektif. Kemudian ada konflik antara suku Sinhala dan Tamil di Srilanka juga berhasil dengan menggunakan konsep-konsep yang menolak radikalisme dari hulu,” tegasnya.

Islah menyebut program Kampung Tangguh Jaya ala Kapolda Metro Jaya Irjen M. Fadil Imran itu merupakan bagian dari upaya membangun budaya menolak radikalisme dari hulu. Islah berharap program pencegahan radikalisme seperti itu berjalan di banyak daerah.

Apalagi sekarang sudah ada Perpres Nomor 7 Tahun 2021.
BNPT sebagai leading sector bekerja sama dengan lembaga negara, departemen dan non departemen, serta menempatkan Polri dan TNI sebagai pendamping utama. Andai ini berjalan efektif di daerah, Islah yakin penyebaran ideologi radikal bisa dikikis.

“Saat ini program kontra radikal di Kota Solo sebagai role model. Solo ini unik, semua ideologi tumbuh secara politik, partai politiknya besar tapi radikalnya tinggi. Ini kemudian menjadi role model supaya Perpres Nomor 7 bisa dijadikan rencana aksi daerah,” demikian Islah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here